Friday, September 30, 2016

[Review Anime] Flying Witch

Nao - Makoto - Kei - Chinatsu - Akane


Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=11469




Ngelantur Sebentar:

Flying Witch; ふらいんぐうぃっち

Maaf kalo nggak saya tulis first impression-nya, karena jujur aja agak bingung menilai 1-2 episode dengan cerita (heh? cerita?) kayak begini. Maaf juga kalo review ini keluarnya agak telat banget.

Konon katanya, anime ini mirip anime kampung sebelah. Tapi apa iya mirip semirip-miripnya?




Sinopsis:

Kowata Makoto, seorang penyihir berusia 15 tahun dari Yokohama, pindah rumah ke tempat baru untuk menjalani latihan sebagai penyihir. Tujuannya adalah kota Hirosaki, prefektur Aomori, tempat tinggal keluarga dari sepupunya.

Dengan orang-orang baru di sekitarnya, Makoto menjalani kehidupan sehari-harinya sekaligus mendalami lebih jauh tentang dunia magis.

Sumpah di bagian ini saya ngakak kenceng banget AOWKEOAKWOAEKOAWK XD





Review:


Kalo dikatakan Flying Witch ini sama kayak Non Non Biyori, jelas nggak. Sedikit mirip, tapi seperti kata pepatah: keduanya bagai pinang dibelah pinggir, jatohnya beda nggak simetris. Selain adanya unsur magis dalam Flying Witch, dari segi suasana latarnya pun beda atmosfer. Non Non Biyori itu bener-bener di kampung pedalaman yang nihil hiruk-pikuk (well, but it's in Japan, beda lah sama kampung di Indonesia), sementara Flying Witch lebih ke arah semi-rural atau malah sub-urban karena punya area residensial yang lebih padat. Lebih rame dikit gitu.

Tapi mari kita tinggalkan hal sepele tersebut karena Flying Witch punya keunikannya tersendiri sebagai anime adem-adem jebret.

Kelebihan!

(* ̄Д ̄)


Spell #1 - Music!

Saya nggak mengatakan visual sebagai faktor pertama. Kenapa? Karena yang pertama kali memberi kesan mendalam begitu ditangkep oleh indera saya adalah sesuatu yang masuk ke kuping alias musik. Bicara lebih detailnya lagi, BGM a.k.a. background music. Saya nggak ngerti kenapa, tapi efek alunan nada di beberapa detik pertama episode 1 itu rasanya kayak dihajar telak oleh semilir kedamaian, bahkan saya sampe nggak bisa nahan senyum haru cuma karena untaian frekuensi berharmoni tersebut. Di sepanjang anime pun musik latarnya enak-enak dan sukses banget ngebawa mood tenang dan rileks.

Dan... apalagi selain opening song-nya? Shanranran feat. 96Neko yang dibawakan miwa itu bener-bener lucu banget in a childlike-innocent sense, apalagi kalo ngerti liriknya. Ditambah aransemen lagu yang ringan-ringan unyu, saya hampir pasti goyangin kepala perlahan ke kiri kanan sambil senyum-senyum sendiri setiap kali dengerin. Oh ya, nggak lupa juga untuk bagian tepuk tangannya yang selalu bikin saya ikutan tepuk tangan~ (≧∀≦)

Prok prok prok prok!


Spell #2 - Character Design!

Sebenernya nggak ada yang "wah" dengan desain karakternya. Satu-satunya yang agak "nyeleneh" cuma Akane (mungkin kebanyakan energi gaib jadi rambutnya putih #nebak), tapi sisanya nggak jauh beda dengan manusia normal. Nggak ada warna rambut dan mata yang berwarna-warni kayak pelangi, nggak ada bagian tubuh tertentu yang berlebihan, juga nggak ada karakter dengan baju aneh-aneh. Singkatnya, simpel tapi enak dipandang.


Spell #3 - Seiyuu!

Shinoda Minami dan Suzuki Eri berhasil menjadi "duet maut" pengisi suara Makoto dan Chinatsu di sini. Untuk Makoto, suaranya itu empuk-empuk enyak selow-selow nyantai, menambah jebretnya nuansa adem anime ini. Cara bicaranya juga mengingatkan saya pada Mizunashi Akari dari ARIA. Suara Chinatsu sendiri cute tapi nggak lebay, cocok banget buat anak kecil umur 9 tahun. Plus, suara keduanya melebur sempurna dengan kepribadian masing-masing karakter.

Episode ini bisa jadi pembelajaran bagi yang nggak tau bentuk dari pohon apel.


Spell #4 - Real Life Location!

Flying Witch memang bukan anime pertama yang menggunakan tempat di dunia nyata sebagai latar. Tetapi, harus saya akui kalo anime ini merupakan salah satu yang berhasil membawakan nuansa kota real (Hirosaki), sehingga seolah-olah penontonnya sedang berada di tempat yang sama. Siapapun yang nonton pasti nggak akan melewatkan kastil Hirosaki yang ditampilkan di episode 4, yang ternyata memang beneran ada dan bisa dicek pake Google Maps. Nggak cuma itu, dari anime ini saya bisa mendapatkan kalo kota Hirosaki merupakan tempat penghasil apel di Jepang sana, yang ternyata emang sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Pokoknya silakan liat perbandingan foto-foto antara adegan di anime dengan lokasi aslinya di sini: http://ukatensei.blog50.fc2.com/blog-category-51.html

Hirosaki castle.


Spell #5 - Magic Realism!

Ingin sihir penuh aksi dan gebuk-gebukan? Anda berharap pada anime yang salah. Flying Witch bukan anime yang menonjolkan sisi ganas dan gaharnya para penyihir yang doyan gampar-gamparan dengan berbagai kesaktian. Di sini kita disuguhkan sihir yang bener-bener menyatu dengan kehidupan sehari-hari minus unsur-unsur fantastis yang jedhar jegher bledar, serta jauh dari kesan jampi-jampi ala mbah dukun sedang ngobatin pasiennya. #dihajar

Faktor ini juga mencakup satu aspek berbau supranatural lainnya, yaitu magical wonders. Bukan cuma menceritakan apa aja yang bisa dilakukan Makoto sebagai penyihir amatir, tapi juga apa aja fenomena mistis yang terintegrasi dengan dunia sehari-hari. Bagaimana waktu dan musim tertentu datang dibawakan oleh makhluk-makhluk khusus, plus gejala-gejala supranatural lain yang terjadi secara berkala dan begitu dekat dengan hidup manusia dalam anime ini. Semuanya dibawakan secara sangat natural (dan nggak horor) sehingga siapapun yang nonton akan mampu menerimanya sebagai bagian tak terpisahkan dari worldbuilding yang ada tanpa perlu mikir keras.

Inget, rubah itu menggonggong. Bukan "kon kon".


Visual! Secara keseluruhan nggak kelewat super heboh, tapi juga nggak bisa saya katakan nggak enak (meski paus di episode 11 dan ikan-ikan merah di pengujung episode 12 itu sukses bikin mata saya nggak berkedip). Pas-pas aja dan sanggup memberi tambahan energi adem ayem yang memang jadi tujuan anime ini.

Adegan ini sukses bikin saya narik nafas panjang.........



No development, no climax, no high tension, no action and wave of explosion... tapi itu semua nggak masalah buat saya kalo sedang menikmati anime ber-genre begini. Artinya, nggak ada faktor kelemahan. Cuma satu hal yang jadi catatan, saya pribadi lebih suka kalo unsur magical wonders-nya lebih di-explore. Lebih banyak fenomena gaib natural yang diceritain gitu.

Well, itu artinya saya harus lanjutin serial ini di manga-nya.

......dan yang ini bikin saya terharu hampir nangis. It was just too beautiful. :)


---------------




Rating:

8.5/10 (B rank) untuk Flying Witch karena adem enyak enyak enyak. Juga karena di beberapa aspek sangat memanjakan telinga saya.

Direkomendasikan bagi siapapun yang membutuhkan tontonan santai serta menenangkan, dan tentu juga untuk para pecinta anime yang tenang tanpa kekisruhan.

Karena bahagia itu sederhana. :3


***

7 comments:

  1. Bagus kak review-nya, suara si chinatsu emang mblegar cute ditambah si makoto, adem-adem gimana gitu.. But, sayang juga sih, scene yang ada Anzu nya dikit.. Cuman di cafe, rumah kei, sama diatas ikan paus Padahal ini chara juga berpotensi lo.. >//<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih (≧∀≦)

      Anzu fans detected :3
      Saya juga cukup tertarik karena sisi intelligent dia, tapi sayang dia belum ngasih liat sesuatu yang "nyampur banget" sama aura di anime ini. Mungkin kalo ada season 2 nya saya bisa jadi lebih tertarik lagi, selama karakternya digali lebih dalem.

      Delete
  2. si kuro setelah beres jadi archer langsung belajar sihir2 bener terus ganti nama jadi akane ahaha


    VA kucingnya mahal itu loh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm.. jangan ngomongin itu di sini, ntar nafsu lolicon saya bangkit awkoekawoekoawke #plak

      Ho oh, saya aja kaget kenapa mereka cuma jadi seiyuu kucing (@__@)
      Awalnya sempet ngarep ada "dialog antar hewan" tapi pake bahasa manusia biar bisa denger suara beneran para seiyuunya, eh nggak taunya nggak ada...

      Delete
  3. Bagus nie review nya mayan buat referensi heheh
    Salam kenal yah n jangan lupha mampir ke blog Ane promosi dikit

    ReplyDelete