Saturday, January 14, 2017

[Review Anime] Log Horizon

Belakang: Rudy - Isuzu - Minori - Touya
Tengah: Naotsugu - Nyanta
Depan: Akatsuki - Shiroe

Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=9677




Ngelantur Sebentar:

Berangkat dari ketidakpuasan saya akan Re: Zero, saya memutuskan untuk mencari anime yang sanggup menyajikan dunia dengan detail yang lebih dalem sehingga sanggup membawa saya masuk secara imajiner untuk merasakan tempat, suasana, latar, budaya, dan lainnya di suatu anime.

Dan pilihan saya jatuh kepada...!

Log Horizon.

Judulnya ini merupakan... eits, spoiler. Saya juga nggak menyesal telah memilih anime yang satu ini. Langsung ke review!

Note: Review ini HANYA untuk SEASON PERTAMA. Saya belum ada niatan untuk nonton season 2-nya.





Sinopsis:

30000 pemain game MMORPG "Elder Tale" di Jepang mendadak masuk ke dalam game yang mereka mainkan setelah update-nya ke patch terbaru. Masalahnya, tidak ada seorang pun yang dapat melakukan logout.

Shiroe adalah pemain Elder Tale yang ikut tersedot masuk ke dalam game. Dia pun berusaha memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di dunia yang baru ini bersama temannya, Naotsugu dan Akatsuki.

Our protagonist, the Villain in Glasses.





Review:


Mungkin dibanding Anda sekalian, online game yang saya pernah mainkan tidaklah banyak. Yang MMORPG apalagi, cuma pernah 3: Ragnarok Online sewaktu 2 SMP, Emil Chronicle Online sewaktu awal-awal kuliah, dan baru-baru ini udah stop main Aura Kingdom. Tapi... seperti sifat protagonis kali ini, saya nggak bergabung dalam guild manapun. Untuk AK sih join, tapi berhubung guild-nya udah mati, ya udah berarti sama aja nggak join manapun (tapi kan lumayan guild hall-nya serasa milik sendiri :P). Semuanya di official server. Saya nggak pernah main di private server.

Kenapa ini jadi curhat wkawkakwka XD

Terlepas dari kuantitas yang pernah dimainkan, saya tetap bisa menikmati anime bertema MMORPG ini. Yup, lumayan untuk menyembuhkan kekecewaan akan anime sebelah sehingga saya malah bersyukur nggak nonton pas ongoing.

Iya, saya tahu ini nggak akan bisa lepas dari image "dibanding-bandingin sama SAO (Sword Art Online)". Tapi sebodo amat karena saya nggak nonton SAO, setidaknya sampai review ini ditulis.

Daripada makin nggak jelas omongan saya... Kelebihan!

Yang kebetulan lagi rajin, tolong itungin berapa kali adegan nyentuh kacamata ada di sepanjang 25 episode....


Log #1 - Music!

Database, database!

Yang dimaksud tentulah bukan database dalam dunia IT karena Log Horizon nggak ada hubungannya dengan SQL dan temen-temennya. Itu adalah judul dari opening theme-nya yang dibawakan oleh band Man with a Mission feat. Takuma. Asik dan rame banget dengan keseluruhan lirik setengah English-nya yang nggak jadi EngRish.

Yang jelas kalo Anda stres, jerit-jeritlah dengan lagu ini! Database, database! Just living in the database! WO~OOOO!!

Apalagi?

BGM! Bener-bener epic dan berasa "RPG banget"! Semuanya juga diletakkan secara pas dan tepat guna. Favorit saya sendiri ada beberapa. Yang pertama... contohnya ada di episode 2 bagian ujung-ujung sekitar 21:30an sewaktu griffon milik Shiroe dan Naotsugu lepas landas. Entah kenapa aransemen itu rasanya nostalgic. Kemudian BGM-BGM yang biasa dimainkan kalo adegan sedang berada di aula Palace of Eternal Ice itu... enyak enyak enyak. d(≧∀≦)b

LOLIBASE! LOLIBASE! #inilegal #mustahildipenjara


Log #2 - Main Character!

Shiroe sebagai protagonis nggak bisa saya katakan kompleks, bahkan bisa didefinisikan hanya oleh satu frasa: benevolent mastermind. Tapi! Yang membuat saya terkagum-kagum dengan makhluk yang satu ini adalah... kecerdasannya bukan kecerdasan palsu!

Saya nggak bicara strategi pertempuran karena sebagian besar battle di anime ini sebenernya cuma sarana untuk penjelasan skill, job, event, dan dungeon yang ada di Elder Tale. Yang saya maksud di sini adalah cara Shiroe menyelesaikan problem-problem sosiokultural dengan observasi yang tajam dan pengambilan keputusan yang tepat sasaran. Susah menjabarkan hal tersebut tanpa spoiler, maka dari itu saya tumpahin sekalian.



Bagaimana seandainya para pemain bisa revive tanpa khawatir nyawa melayang permanen, bahkan nggak perlu ngapa-ngapain pun bisa hidup? Apa problem sosial yang akan muncul dari situ? Shiroe (dengan input dari temen-temennya) berkesimpulan: kebosanan karena nggak ada sesuatu yang dikerjakan.

Dengan adanya kebosanan yang berpotensi memuakkan seiring waktu, apalagi yang akan timbul? Para pemain akan melakukan apapun demi menghilangkan kebosanannya, meski dengan cara-cara yang rendahan (player killing, newbie trafficking). Nggak cuma itu, diskriminasi pun terjadi antara pemain yang bernaung di bawah guild besar dengan yang berada di guild kecil dan yang nggak masuk mana-mana. Shiroe pun mengambil keputusan: harus ada aturan baru di dunia yang baru ini, kehidupan normal harus tetap berjalan, dan harus ada badan pemerintahan representatif yang mewakili aspirasi segala macam golongan pemain. Lebih jauh, dia meredefinisi "hak asasi" karena hak untuk hidup udah nggak relevan diterapkan.

Bagaimana seandainya ada yang memilih menolak aturan hidup yang baru itu? Shiroe sudah memperhitungkannya dan merencanakan langkah preventif: membeli Guild Building, setelah observasi yang teliti menunjukkan kalo saat ini semua bangunan bisa dibeli.

Masalahnya, biayanya besar. Gimana caranya agar dapat uang? Jualan nggak cukup, artinya harus dapet duit dari yang lebih kaya. Masalah lain timbul, Shiroe tentu harus menawarkan sesuatu yang setimpal agar dapat bayaran. Apa tawarannya? "Resep rahasia" dari salah seorang rekannya, yang berpotensi mengubah selamanya dunia Elder Tale yang selama ini dikenal.

Semua rencana terjalin sempurna. Nggak ada perwakilan guild yang nggak setuju rencananya, badan representatif pun berhasil dibentuk. Maka jadilah tatanan sosiokultural yang baru dalam skala lokal! Gilanya lagi, rencana sebesar itu digunakan untuk menyamarkan rencana yang lebih kecil dan simpel, yaitu menyelamatkan pemain korban newbie trafficking.

Nggak ada "jenius mendadak", nggak ada "inspirasi di luar bukti yang udah dilihat", nggak ada hal yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Semua memiliki urutan perencanaan yang paten, berbasis observasi, masuk akal, serta sanggup mengubah sesuatu menjadi lebih baik secara sistemik. Bener-bener cerdik seperti ular, tapi tulus seperti merpati. Manipulatif, tapi tetep benevolent.

Nggak cuma itu, Shiroe juga ahli dalam teamwork dan people management. Di tangannya, noob yang cupu nggak karuan pun bisa jadi aset yang menentukan. Decak kagum nggak bisa saya tahan ketika Serara yang masih level belasan sanggup diberdayakan secara maksimal. Bocah-bocah korban trafficking pun nggak sekedar disuruh menunggu, tapi tetap harus melakukan bagiannya agar segala rencana berjalan lancar. Bahkan salah satunya (Minori) berkembang menjadi "mini-Shiroe" yang sanggup menjadi field commander yang efektif!

Dan satu hal lagi yang membuat Shiroe menjadi sosok yang amat sangat keren di mata saya adalah... dia nggak nge-cheat! Nggak punya skill yang overpowered, nggak punya senjata spesial aneh-aneh, bukan gamemaster (GM), dan nggak berusaha dengan segala cara untuk menjadi makhluk terkuat sejagat Elder Tale. Lantas apa yang membuatnya bisa outwitting semua yang menghalangi tujuannya? Cuma satu hal: paradigmanya. Sementara orang lain masih memandang Elder Tale sebagai sekedar game, Shiroe sudah mulai memandangnya sebagai dunia yang berbeda dari Elder Tale yang dia tahu. Itulah kenapa dirinya selalu selangkah di depan.

Damn you, Shiroe! Why you must be so cool?! Jadi laki tuh begini!

OM TELOLET OM


Log #3 - Worldbuilding!

"When Elder Tale was a game..."

Potongan kalimat itu menjadi ciri khas setiap kali ada aspek dalam game Elder Tale yang ingin dijelaskan. Meski saya agak keberatan kalo eksposisinya dilakukan di tengah-tengah pertarungan, tapi untuk yang lainnya nggak masalah.

Nggak bisa disangkal lagi, sang author Log Horizon tergolong niat dalam membangun dunia yang akan dijadikan sebagai latar. Ada beberapa aspek yang dibangun.



Pertama, kondisi geografis dan geopolitik. Dari aspek inilah saya bisa membayangkan dengan pasti lokasi apa aja yang ada di dunia yang sedang mereka nikmati. Memang bukan yang terdetail yang bisa ditawarkan, tetapi udah baik. Kita punya peta Jepang yang terpecah menjadi 5 negara. Kita tahu kalo server-server di Jepang menjadi kota-kota basis para Adventurer. Kita tahu kalo Eastal League of Free Cities menyerupai konfederasi beberapa duchy dengan salah satunya sebagai koordinator (kenapa saya jadi inget Holy Roman Empire...). Kita tahu kalo nggak jauh dari Akihabara ada Palace of Eternal Ice, ibukota Eastal. Kita tahu ada barrier pegunungan yang memisahkan Eastal dan Ezzo, plus dungeon-nya. Kita tahu kalo tempat spawn monster sama dengan lokasi aslinya when Elder Tale was a game.

Hebatnya, hal itu nggak ditawarkan untuk diterima begitu aja sama penonton! Dijelaskan juga kalo semua dasar geografi di sini didasarkan pada peta sesungguhnya, namun dikerdilkan dengan konsep Half Gaia Project yang, seperti namanya, mengecilkan semua jarak menjadi setengah jarak aslinya di dunia nyata.

Kedua, golongan orang. Di sini ada 2, yaitu Adventurer (para pemain) dan People of the Land (NPC). Biasa sih, biasa banget. Tapi kemudian dibikin jadi nggak biasa karena ternyata... NPC-nya menjadi sentient being! Mereka memperoleh emosi, kepribadian, keinginan, dan hal-hal lain layaknya manusia biasa. Satu perbedaannya dengan para Adventurer, mereka nggak bisa revive. Dari konsep ini ditambahkanlah bumbu gesekan ketakutan sejenis xenophobia satu arah karena berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kekuatan dan budaya yang berbeda.

Ketiga, sejarah dan mitologi. Episode 14 bekerja dengan sangat baik dan maksimal untuk memberikan gambaran tentang kronologi dunia Elder Tale, yang memiliki era yang berbeda-beda dan berkontribusi terhadap terbentuknya masa sekarang. Bahkan dari sini saya jadi tahu kenapa monster-monster itu bisa respawn dan kenapa ada ras makhluk setengah manusia.

Keempat, sistem psikosomatis (Greekpsyche - jiwa; soma - tubuh). HP dan MP dalam dunia Elder Tale ternyata berperan penting dalam menyusun aspek-aspek seorang manusia. Bagus banget menggambarkan konsep HP sebagai anima - energi yang menyusun tubuh fisik, dan MP sebagai psyche - energi yang menyusun jiwa/pikiran. Lebih jauh lagi, hal ini dihubungkan dengan kehilangan EXP dan memori/ingatan setiap kali seorang pemain mati dan revive!

Kelima, magic system. Jika di dalam suatu game biasanya hanya ada serangan fisik dan magic serta faktor elemen-elemen, di sini dijabarkan lebih jauh lagi secara skalanya, mulai dari yang punya pengaruh paling kecil hingga magic yang sanggup mengubah dunia itu sendiri. Hell yeah World Fraction!

Keenam, dinamika. Kita nggak ditawarkan worldbuilding statis begitu aja, tapi ada perubahan seiring waktu. Apa dampaknya kalo kumpulan manusia immortal tanpa pemerintahan bersikap seenaknya, bagaimana kalo mereka mendirikan pemerintahannya sendiri, bagaimana interaksi mereka dengan orang-orang asli (People of the Land) Elder Tale, bagaimana konsekuensinya kalo terlalu asik mengurus diri sampai lupa aspek-aspek sistem game (lupa ada event =__=" ), dan bagaimana efek penemuan-penemuan baru akan mengubah masyarakat. Dinamikanya diceritakan secara asik!

Itu aja? Jelas nggak! Di sini juga diceritakan gimana Shiroe sanggup memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan yang didapatkannya tentang sistem magic dan psikosomatis untuk menambah bumbu dinamika worldbuilding dengan caranya sendiri.

Hebatnya lagi, hanya dalam 25 episode saya udah mendapatkan itu semua! Dasar-dasar tentang dunia Elder Tale pun bisa saya pahami dalam 1 season. Great job, Mr. Author!

Nasib job full support. Mata meleng sedikit, temen satu party bisa tewas.



Hmm... what else? Oh, seiyuu! Yang paling enak buat saya jelas suaranya Serara (Kuno Misaki). Sisanya boleh lah, dan Terashima Takuma cukup berhasil membawakan sosok Shiroe yang manipulatif tapi nggak berdarah dingin dengan warna suara agak datarnya itu. Cocok dengan protagonis kita yang nggak emosional dan meledak-ledak.


Ingat, punya pasangan lebih dari 1 itu menyeramkan......
......karena dapat menyebabkan obesitas. #disumpel





Sayangnya, worldbuilding yang sangat kaya seperti itu memiliki harga yang harus dibayar. Kelemahan!

DUEL OF THE MEGANE.


Pertama, karakter.

Yang paling oke cuma Minori karena development-nya keliatan banget, tampak sebagai buah kerja keras dan ketekunannya mengikuti teladan Shiroe. Shiroe is fine, saya melihat perubahan pandangan dia yang anti-guild menjadi memandang guild sebagai sebuah rumah. Tapi sisanya... gitu deh.

Mungkin karena anime ini bertujuan untuk "menceritakan perkembangan masyarakat", sosok per individunya jadi kurang menarik, banyak yang nggak dapet development, serta hanya sekedar one-dimensional character. Contoh, Naotsugu. Hilangkan kecenderungan becanda melencengnya, maka dia nggak jadi apa-apa lagi. Akatsuki pun demikian. Hapus sifat devoted-nya, maka karakterisasinya turun jauh. Sisanya banyak yang hanya semacam "pajangan", cuma didefinisikan dengan keunikan tertentu tanpa digali lebih dalam.

Minori, mini-Shiroe.


Kedua, no real ending.

Tadi saya sempet sebut kalo anime ini "menceritakan perkembangan masyarakat". Sayangnya...! Nggak ada ending yang *klik*. Saya nggak ngerti arc terakhir itu untuk apa, nggak ada klimaks-klimaksnya. Iya, saya tahu ini adaptasi LN yang masih lanjut. Masalahnya nggak balance banget penempatannya. Arc di awal-awal itu jebret langit ketujuh, sementara arc terakhirnya... gregetnya amblas alias jatuh bebas. #tepokjidat

Sekali lagi, ini legal.


Ketiga, visual.

Satelight, please. Pewarnaan nggak tajam dan detailnya kurang banget.

Serius, secara visual nggak bisa bersanding dengan anime-anime di musim yang sama (Fall 2013 - Winter 2014). Mau bandingin sama apa? Background alam Non Non Biyori yang sejuk dan desain karakternya yang unyu? Penggambaran lautan super cantik di Nagi no Asukara? Sintingnya jebret-jebretan di Kyoukai no Kanata? Heck, cewek-cewek di Mikakunin de Shinkoukei pun masih tampak lebih cute dan cerah. Apalagi bandingin sama Chuu2Koi Ren, battle alam transendennya no brainer banget buat dibilang bagus.

Saya juga mau protes untuk desain kostumnya. Terlalu polos untuk sesuatu ber-genre fantasi, KHUSUSNYA desain armor buat job Guardian. Di sini... kurang seru untuk dilihat. Satu-satunya yang menarik buat mata saya cuma desain armornya Lenessia. Well, ini mungkin bias saya juga sih. Soalnya setiap main MMORPG, seringnya pegang char tanker alias badak. :P

HIME-SAMAAAA #diinjek




---------------





Rating:

8.2/10 (B rank) untuk Log Horizon karena opening theme-nya yang cadas, BGM-BGM yang enak, karakter utama yang keren abis, dan tentu saja untuk worldbuilding yang kaya dan detail.

Direkomendasikan bagi yang menyukai anime berlatar belakang MMORPG dan... sebentar. Mungkin ada yang mau menulis skripsi berdasarkan evolusi sosiokultural yang ada di anime ini? :)

Together as one, the Log Horizon.


***

11 comments:

  1. Kapan2 review anime kuzu no honkai ya bray! Btw, gua suka sama gaya bahasa tulisan lo yg menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih d(≧∀≦)

      Hmm... Kuzu no Honkai ya... nggak masuk radar saya musim ini sih. Kayaknya realistis banget, saya harus siap mental nontonnya XD

      Delete
  2. Request Guilty Crown kalau bisa

    ReplyDelete
  3. request monogatari series

    ReplyDelete
    Replies
    1. Juga ndak nonton, maaf.
      Dari dulu mau nonton lupa melulu wakwkakwa XD

      Delete
  4. Replies
    1. Idem dengan reply di atas-atas, saya nggak nonton. XD

      Delete
  5. Why gak nonton SAO?
    Padahal setema sama anime ini dan Re Zero

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya nonton ep.1-nya doang pas pertama kali tayang taun 2012.
      Sempet sih simpen sampe episode terakhir, tapi ternyata saya nggak tertarik lanjutin gara"... kenapa ya? Saya juga nggak ngerti, tiba" nggak ada niatan lanjut aja XD

      Delete