Sunday, May 27, 2018

[Review Anime] Shoujo Shuumatsu Ryokou

Yuuri - Chito
Yang nemplok di helm: Nuko
Pic source: https://twitter.com/girls_last_tour





Ngelantur Sebentar:

Kali ini saya nggak bakalan ngelantur panjang-panjang. Saya cuma mau ngasih tau kalo saya nggak menyangka akan SEBAGUS INI.

Shoujo Shuumatsu Ryokou; 少女終末旅行; Girls' Last Tour.

Perjalanan terakhir para gadis... atau bukan yang terakhir?

Note: Saya nonton ini dalam 2 hari (19-20 Januari - 7 & 5 episode), jadi saya nggak ngikutin berbagai spekulasi dan hipotesis yang dibahas di dunia maya per minggunya. Artinya, review ini kebangetan telatnya.




Sinopsis:

Umat manusia telah musnah. Atau... hampir musnah.

Chito dan Yuuri, dua orang yang masih tersisa, berkendara dengan motor half-track SdKfz 2/Kettenkrad dan menjelajahi sisa-sisa peradaban yang ditinggalkan, sambil berusaha bertahan hidup dari apapun yang mereka temukan.

D I G E P L A C C




Review:


Sebelum memulai, saya ingin memberitahu kalo sebenernya segala faktor kelebihan di anime ini bisa dikategorikan ke dalam 2 faktor, storytelling dan catharsis. Tapi demi detail, saya akan mengurainya menjadi beberapa poin.

Well... let's get started.

Kelebihan!

Kelebihannya adalaaa...h!


Tour #1 - Visual!

Saya nggak akan membahas character design yang mbulet dan lucuk-lucuk itu, karena saya sudah berpengalaman dengan Madoka Magica 7 tahun yang lalu. Belum lagi dengan Made in Abyss yang juga serupa - tampangnya unyu, ceritanya beringas. Jadinya ya nggak kaget kalo ternyata ceritanya nggak seimut desain karakternya. :P

Untuk faktor ini, yang amat sangat jebret adalah ambience yang ditimbulkan dari pengolahan visualnya.

Pertama, pada hampir keseluruhan jalan cerita, kita nggak dikasih palet warna-warna cerah yang kontras. Dari sini aja udah terpancar aura suram nan depresif tanpa harus ada kepala copot atau usus terburai.

Kedua, ilustrasi latar. Nafas peradaban mati di sini ditunjukkan dengan sangat baik lewat struktur dan tekstur permukaan berbagai hal yang ditemui Chito dan Yuuri. Juga nggak terlalu mengandalkan kehancuran total (kayak bangunan ambruk semua, jembatan putus, jalan bolong-bolong, dan lain-lain) sebagai latar. Kebanyakan bangunan yang ditunjukkan malahan masih berdiri tegak. Jujur, yang begini malah bikin saya makin merinding daripada ngeliat tanah full rata plus sisa-sisa tembok roboh belaka.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


Tour #2 - Sound!

Sound effect-nya ngeri. 

NGERI! 

Sepi. Sunyi. Itulah yang sangat mendukung ambience anime ini yang secara cerita memang senyap. Seperti kata pepatah, diam itu emas. Bukannya nggak ada suara sama sekali lho ya. Masih ada bunyi gema, tetesan hujan, mesin-mesin yang berjalan, serta suara-suara kecil lain. Tapi karena berkali-kali dibiarkan tanpa terganggu background music, suara-suara tersebut justru sukses besar memberikan efek merinding.

Background music-nya juga oke! Jujur aja saya bingung kalo harus mengulasnya secara rinci. Masalahnya, saya nggak ngerti apa yang diucapkan di lagu-lagu tersebut, namun berhasil merasuk ke pikiran dan perasaan. Kalo boleh lebay sedikit, buat saya background music yang dinyanyikan seakan sanggup melampaui segala arti dan makna bahasa yang ada di muka Bumi dan terasa amat sangat cocok untuk dunia yang sunyi kayak begini.

OP dan ED! Ini menurut saya faktor yang agak aneh. Opening maupun ending theme-nya kedengeran cute dan... biasa. Biasa banget. TETAPI! Karena ditaruh di anime yang berfokus pada kekosongan sebagai core-nya, dengerin 2 lagu tersebut rasanya sangat menggembirakan.

Seiyuu... tolong lah ya. Minase Inori gitu lho. Pada dasarnya emang saya udah doyan. Kubo Yurika di sini juga cocok, nge-blend banget dengan karakter Yuuri yang rada-rada koplak. XD

MANTAB ANJEEE..... #dihajar


Tour #3 - Characters!

Yup, karakter.
"Mereka cuma loli moeblob!"
> "Itu cuma yuribait!"

Saya nggak tahu apakah Tsukumizu (author manganya) sengaja membuat mereka seperti itu atau nggak. Yang jelas, saya menangkap bukan satu, bukan dua, tetapi TIGA interpretasi berbeda tentang "Kenapa karakternya harus mereka?"

Pertama, keduanya merupakan "agen" untuk membuat anime yang sudah tampak depresif ini bertambah suram. Inget, mereka berdua itu perempuan. Juga nggak ada tanda-tanda kalo level teknologi yang ada sanggup membuat manusia dari dua orang berjenis kelamin sama. Artinya, mustahil bagi keduanya untuk menghasilkan keturunan dan membuat umat manusia kembali berjaya. Dengan kata lain, keduanya adalah simbol there's no more hope for humanity di anime ini.

Kedua, keduanya merupakan representasi manusia per individu. Saya melihat Chito sebagai representasi sisi rasional-etis manusia, sementara Yuuri sebagai ilustrasi insting manusia. Setiap manusia normal pasti memiliki kedua sisi tersebut. Pada kasus normal, seharusnya sisi rasional-etislah yang memegang kendali, seperti Chito yang selalu jadi supir Kettenkrad. Jika nggak, manusia bisa melakukan hal-hal yang merugikan dan mengerikan (episode 1 dan 11 merupakan contoh yang bagus banget!). Menariknya, di sini ditunjukkan kalo sisi instinglah yang berperan dalam menemukan sesuatu yang baru ataupun bergerak ke teritori yang tidak diketahui, seperti Yuuri yang berkali-kali mengajukan pertanyaan ataupun mencoba sesuatu tanpa rasa takut, dan juga yang menyadari duluan kalo suara tetesan air hujan itu enak didengar.

Ketiga, keduanya merupakan perantara yang luar biasa jebret bagi para penonton untuk bisa memahami apa sebenarnya yang ingin disampaikan keseluruhan anime. Berbagai dialog dan interaksi Chito dan Yuuri berhasil menjadi "pancingan" yang sangat baik untuk menyingkap inti dari Shoujo Shuumatsu Ryokou, yaitu tentang kemanusiaan itu sendiri dan bukan demi hal yang lucu-lucu belaka. Seandainya Yuuri bukan karakter yang bergerak berdasarkan insting dan sering mengajukan pertanyaan simpel tapi susah dijawab, dan Chito bukan karakter yang hati-hati dan selalu berusaha menjawab Yuuri meski kadang spekulatif, maka anime ini nggak akan punya depth, nggak akan sanggup memperlihatkan nature manusia secara keseluruhan.

(≧∀≦)


Tour #4 - Humanity!

Sebelumnya saya mengatakan kalo Chito dan Yuuri sukses menjadi sarana bagi penontonnya (baca: saya) untuk bisa menangkap apa esensi dari Shoujo Shuumatsu Ryokou.

Betul, mengenai kemanusiaan. Humanity itself. Anime ini dengan GAMBLANG memperlihatkan apa itu manusia pada setiap episodenya.

Kita bisa menjadi makhluk paling brengsek sejagat dan berperang tanpa berpikir panjang untuk berbagai alasan, bahkan menyebabkan kehancuran peradaban. 

Kita punya naluri bertahan hidup yang tinggi dan merupakan makhluk yang SANGAT adaptif. 

Kita punya insting untuk belajar, mencari tahu, dan merekam apapun tentang apa yang kita kerjakan. 

Kita punya naluri untuk berkreasi dan berinovasi dalam sains dan seni, entah menggunakan ilmu pengetahuan tingkat dewa ataupun sekedar tetesan air hujan dan kaleng rombeng. 

Kita perlu rumah, tempat untuk bernaung dan berkumpul bersama orang-orang terdekat. 

Kita punya empati, suatu bentuk empati yang nggak terbatas hanya kepada sesama spesies Homo sapiens, tetapi juga terhadap berbagai makhluk hidup lain yang berdampingan dengan kita. 

Kita punya kecenderungan kuat untuk mengenang orang-orang yang telah mendahului kita, supaya nama orang-orang tersebut nggak dilupakan begitu saja setelah meninggalkan dunia.

Kita PERLU suatu hal transenden sebagai tempat kita bergantung dan berharap, karena secara intuitif kita merasa takut tentang apa yang terjadi setelah kematian.

Sebagai pamungkas, kita akan diperlihatkan betapa kontrasnya sifat-sifat manusia secara berdampingan melalui teknik storytelling yang cantik melalui permainan palet warna yang digunakan. Saya nggak mau spoiler di sini, pokoknya pasti akan ketemu kalo nonton. :D

Dan... faktor inilah yang menghasilkan catharsis yang jebret parah. Perasaan saya serasa diacak-acak. Begini, begini. Sebelum nonton Shoujo Shuumatsu Ryokou, semua konsep di atas itu sekedar jadi konsep di kepala. Saya udah sering denger kalo manusia nggak semuanya baik, ada juga yang busuk. Saya juga udah denger kalo manusia adalah makhluk hidup paling berotak dan paling imba (nerf pls) dalam adaptasi dan inovasi, karena itulah manusia jadi salah satu spesies tersukses di planet ini. Dari pelajaran jaman SMP pun saya udah tahu kalo manusia menyadari ada kekuatan-kekuatan yang tidak bisa dihadapi/diatasi, dan itulah yang mendorong manusia untuk menyembah hal-hal di luar dirinya.

Tapi begitu nonton yang satu ini... semua kayak turun *BRUAGH* sekaligus dari otak ke hati. Hasilnya? Bukan gembira, bukan terharu, bukan sedih, bukan marah, bukan kecewa, bukan depresi. Mungkin... mono no aware adalah frasa yang paling tepat untuk menggambarkan emotional state yang saya rasakan sewaktu selesai menonton dan merenung mengenai keseluruhan anime ini.

Mukanya Chito blangsak sangad awokaowkaowk



Sekarang ke kelemahan!

.....nggak ada kelemahannya.

Saya serius.

Worldbuilding-nya memang nggak detail, bahkan mungkin akan ada di antara Anda yang komplain kenapa kendaraan Perang Dunia II kayak Kettenkrad bisa eksis sejaman dengan mecha yang bisa nembakin energy weapon super kerad dahsyat itu. Namun sebelum Anda komplain lebih lanjut, saya hanya ingin mengatakan kalo tujuan anime ini bukanlah untuk memenuhi genre hard science fiction, melainkan lesson about humanity.

(Masalah eksistensi Kettenkrad yang berasa "keluar jaman", kalo boleh saya tebak sih ada 2 kali perang besar. Perang besar pertama mendorong peradaban mundur, setidaknya sampai pra-Perang Dunia II, tetapi umat manusia masih bisa bertahan. Peradaban sebelum perang pertama itulah yang membuat robot-robot militer raksasa, AI administratif kota, sampai jajaran megastructure yang menjulang ke langit. Setelah peradaban maju kembali ke titik sekitar era Perang Dunia II, Perang Dingin, atau mungkin setara dengan era modern saat ini, perang gede-gedean kembali terjadi dan kali ini umat manusia nggak lolos dari kehancuran --- Ini cuma tebak-tebakan rada logis dari saya aja, nggak ada penjelasan yang pasti di cerita. Jadi, jangan dijadikan patokan.)

Inilah gunanya menggunakan helm saat berkendara sepeda motor #plak


Oh ya, saya rekomendasikan untuk SEGERA membaca kelanjutan serial ini di manganya setelah selesai nonton. Closure-nya keren BANGET. Mungkin kalo ending animenya seperti itu, skor anime ini bisa 11/10. #plak



---------------



Rating:

10/10 (SSS rank) untuk Shoujo Shuumatsu Ryokou karena wow. WOW! Bener-bener thought-provoking, tetapi disampaikan secara santai sekaligus menggugah melalui permainan elemen-elemennya. This is perfect!

Direkomendasikan bagi yang senang menemukan arti dalam setiap hal, termasuk anime yang ditonton.

Puas banget lah nonton anime ini! d(=∀=)


***

10 comments:

  1. Genre nya apa ya min? Hehee jujur belom nonton.

    Sama request darling franxx dong buat di review soalnya suka sama tulisan admin :) ty

    ReplyDelete
    Replies
    1. Secara teknis, slice of life dan science fiction (sub-genre post-apocalyptic).

      Darling in the Franxx? Sebelumnya maaf, tapi saya nggak ada niatan nonton, jadi jangan ditungguin. Yang begitu bukan makanan saya soalnya. :P

      Delete
    2. Jadi kaga ada jumpscare apalah gitu ye kan?? Males bat soalnya kalo ada gituann wkwkkw..

      Kalo emang bukan selera sih gapapa.. sukaa aja review dari admin semisal cocok sama yang lagi ditonton syukurr.. kalo kaga gak papaa.. cheers :)

      Delete
    3. Nggak ada aneh" kok anime ini. Tenang banget malahan, sampe saya ngerasa ini kayaknya sengaja dibuat untuk sarana merenung soal hidup. XD

      Iya, maaf ya nggak bisa saya review. Mungkin lain waktu akan ada review anime yang kebetulan cocok dengan Masnya. :D

      Delete
    4. Abiss nonton nih anime keren parah sumpah. Menghiburnya dapet, nilai nya juga dapet cuman kenapa ikan nya gitu amat yakk.. XD
      Btw itu masih ada lanjutannya gak min? Kalo ada via manga kah? Thanks

      Hopefully, review anime yang lebih cringe dari ini dong wkwkwk

      Delete
    5. Mungkin karena ikan terakhir di muka Bumi, jadi komposisi genetiknya udah acak"an tercemar aneh" XD
      Yep, endingnya di manga. Udah nggak mungkin ada S2nya karena bahan yang bisa diceritain memang udah nggak begitu banyak sih.

      Kalo mau yang mirip ini, coba nonton yang judulnya Jinrui wa Suitai Shimashita.
      Sama" post-apocalyptic tapi jauh lebih nyentrik, aneh, dan berwarna. Tapi perlu mikir lebih ekstra (dan beberapa episode berasa cringey abis) buat ngerti kalo sebenernya anime itu sebenernya sindiran.

      Delete
  2. Replies
    1. Itu 80% bakalan keluar reviewnya sebelum akhir taun. Soalnya memang bagus :D

      Delete
  3. anime yang visualnya sederhana tapi justru terasa cocok banget ama ni anime.
    episode favorit saya pas eps mabok2 gitu bagus bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo nggak salah inget itu 1-1nya episode yang hepi banget (lagi mabok soalnya) XD
      Kontras gila sama episode-episode selebihnya

      Delete