Tuesday, December 20, 2016

[Review Anime] Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Nggak perlu saya sebut 1-1 kan siapa aja mereka?

Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=11370




Ngelantur Sebentar:

Di setiap season, pasti kita menemui anime-anime yang sangat ditunggu-tunggu dan sering banget dibahas. Untuk Spring-Summer 2016 lalu, anime yang satu ini cukup bikin penuh media sosial, dengan banyak hal-hal yang di-share tentang anime ini. Begitu tau ini selesai, baru saya coba tonton.

Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu; Re: ゼロから始める異世界生活

"Re: Memulai Hidup Baru di Dunia Lain dari Nol", kira-kira begitu kalo diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan tentu ini nggak ada hubungannya dengan apa yang diucapkan mas-mas dan mbak-mbak petugas SPBU kalo kita ngisi bensin. #diinjek

Saya mulai menonton Re: Zero dengan ekspektasi yang rendah. Sengaja saya menurunkan ekspektasi sebagai safety measure supaya nggak kelewat kecewa, karena saya denger-denger ini merupakan anime terkini yang sanggup memecah penonton ke dalam 2 kubu yang berlawanan 180 derajat, yang menganggap ini superior (bahkan masterpiece) dan yang menganggap ini di bawah rata-rata.

Jadi, apakah ini sesuai ekspektasi (yang udah dikurangi), di bawah ekspektasi, atau malah jauh di atasnya?

Note: Demi perdamaian dunia, saya akan menulis review di bawah tanpa ada 2 kata ini: waifu dan hype.
Note II: Saya nggak baca web novel ataupun light novel-nya.




Sinopsis:

Dalam perjalanan pulang dari supermarket, Natsuki Subaru mendadak berpindah ke dunia lain. Kejadian pertama yang dialaminya di dunia tersebut kurang mengenakkan karena dicegat 3 preman, namun terbayar melalui pertemuannya dengan seorang perempuan berambut perak yang memperkenalkan diri sebagai Satella. Sayang, peristiwa mengerikan lainnya menyusul, berujung pada pembunuhan keduanya.

Anehnya, Subaru malah terbangun dan kembali ke titik di mana dirinya pertama kali menginjakkan kaki ke dunia lain...

"Hah gue di mana??"




Review:

Udah baca summary-nya? Betul, lagi-lagi berpusat di time-based power, tepat 1 season setelah ERASED. Kali ini dipadukan dengan salah satu tema yang cukup populer belakangan, isekai alias dunia lain dengan standar dunia genre fantasi.

Meski kedua hal tersebut udah pernah dipakai sebelumnya, apakah anime ini punya sesuatu yang layak untuk dinikmati?

Tenang aja, ada. Kelebihan!

Kelebihannya adalah memiliki spesifikasi 32 GB RAM dan ekstra rem cakram. #digebukin


Re: 1 - Cliffhanger!

Penempatan cliffhanger di beberapa episode diletakkan secara cantik, terkadang ditimpa dengan bagian credits dan ending theme sehingga kesan yang ditimbulkan lagu berbaur nikmat dengan adegan yang sedang berjalan. Juga cukup untuk menarik saya di beberapa episode untuk kepengen nonton episode selanjutnya.


Re: 2 - Seiyuu!

Selain Takahashi Rie (Emilia) yang bikin saya ketipu karena saya kirain suaranya Kawasumi Ayako, pengisi suara untuk 2 karakter lain patut saya acungi jempol. Yep, Kobayashi Yuusuke (Subaru) dan the one and only Minase Inori (Rem). Mungkin karena karakter keduanya yang paling matang diceritakan di sepanjang anime, berbagai macem emosi pun sukses disuarakan oleh keduanya mulai dari seneng, ngamuk, menggila, depresi, mewek, dan seterusnya. Ngeliat jajaran seiyuu untuk karakter-karakter lain juga... wow. Memilih mereka adalah keputusan yang tepat karena cocok dengan karakter yang dibawakan, dan kebanyakan juga merupakan veteran yang kemampuannya memang oke punya.

HAAAAAAAAAAAAAAA....u ah gelap


Re: 3 - Wilhelm + Rem!

Jangan berpikiran negatif dulu. Saya menyebut Wilhelm van Astrea bukan karena saya doyan opa-opa cadas berjenggot eksotik tukang sabet monster, tapi dia adalah salah satu dari 2 karakter yang punya karakterisasi dengan dasar yang lumayan oke. Dari backstory khusus untuk dirinya, saya bisa paham betul dan bersimpati dengan motivasi yang dimiliki.

Satu lagi yaitu Rem, karakter berikutnya yang punya proper development. Dia adalah satu-satunya heroine di anime ini yang nggak bisa dibilang one-dimensional character karena dinamikanya bagus banget. Nggak perlu ketelitian ekstra untuk mengetahui hal tersebut karena diceritakan super gamblang. 

Pertama, Rem punya backstory yang jelas. Dari situ saya bisa mengerti alasan dari inferiority complex yang dimiliki. Kedua, langkah yang dilakukan Subaru sukses menjadi pelatuk untuk membentuk development yang baik, mengubah sosok dingin menjadi bener-bener anget dan adorable. Kalo nggak ada satu pun heroine yang punya karakterisasi bagus begini, mungkin saya udah drop anime ini dari episode sebelum 18 di mana saya udah bener-bener frustrasi nonton. Untungnya hal itu nggak terjadi, karena niatan untuk berhenti nonton berhasil direm oleh Rem. #plak

Dan ketiga, tentu karena seiyuu-nya Minase Inori.

Jujur, awalnya saya agak nggak suka dengan Rem meski tetep nggak tahan sama suaranya karena ngomongnya cuma dikit tapi nggak suka sama Subaru, sehingga memberi kesan "kebencian tanpa alasan". Tapi... blas blas blas blas BLASSS! Dalam 18 episode, dia sukses menjadi karakter yang jebret!

Rem.zip (compressed file)


Re: 4 - Episode 18!

SUMPAH EPISODE INI BAGUS PARAH!

Meski antitesis terhadap episode-episode lain, namun episode 18 ini berhasil membuktikan kalo suatu karakter berpotensi lebih greget dalam menarik simpati penonton bukan melalui brutalitas nggak berdasar, jeritan-jeritan liar, atau kemarahan layaknya orang barbar, tetapi lewat dialog yang kuat berakar. Di episode ini, dialog antara Subaru dan Rem enak untuk diikuti karena flow-nya yang baik, plus berhasil menjadi titik karakterisasi tertinggi di sepanjang serial.

Faktor ini adalah yang punya kontribusi paling besar bagi penilaian positif untuk Re: Zero. Dengan spoiler bertebaran sesaat setelah episode 18 tayang, hal yang bikin #TeamRem sedunia ngamuk-ngamuk mustahil dicopot dari dalem otak saya. Anehnya, saya yang biasanya bakal bete setengah mati kalo kena spoiler penting, malah jadi penasaran. Saya tahan-tahanin deh dari episode 1 sampai 17 supaya ketemu episode 18. Rasa penasaran itu pun terbayar lunas dengan penyajian luapan pengakuan kelemahan diri yang tulus dari Subaru, plus respon dan reaksi yang manis dari Rem. Akhirnya, setelah 17 episode tepok jidat dan garuk kepala, ada episode yang membuat saya naturally tersenyum dan terharu!

BRB telen minyak rem ahegrheaeharghrg



Visual! Cukup oke dan berhasil membawakan ambience yang baik untuk tiap-tiap atmosfer emosi yang terjadi di suatu adegan. Kalo lagi serem, penggunaan warnanya gelap-gelap asoy. Kalo lagi suasana normal, diganti ke cerah-cerah meriah (sewaktu di kota, misalnya).

Musik! Jujur aja kurang nyantol di telinga saya. Yang lumayan enak itu ending song pertamanya, Styx Helix yang dibawakan MYTH & ROID. Permainan BGM-nya juga sedap, serupa lah sama visualnya yang sanggup menyajikan ambience yang sesuai dengan atmosfer.

SI SENGKLEK INI JUGA GEMBEL ASLI WKAWKAKWKAWK



Kelemahan? Jelas ada. Coba perhatikan lagi faktor kelebihan nomer 3, di mana saya mengatakan kalo saya frustrasi nonton sampai kira-kira 2/3 total episode. Dan gilanya, episode 18 sendiri nggak cukup untuk membayar segala macem kelemahan yang akan ditulis.

"Ma-Masih ada kelemahannya?!"

WARNING: HEAVY SPOILER AHEAD!


Pertama, annoying plotholes/unexplained stuff/sudden disappearence.



Saya bakal sebut 1-1 apa aja yang bikin saya gemes gregetan karena semuanya jadi berujung spekulasi.
  • Itu gimana caranya Subaru tiba-tiba pindah ke ibukota Lugunica?! Nggak ada ritual summoning, nggak ada gerbang dimensional, nggak ada device khusus. Pokoknya nggak ada ba bi bu tau-tau pindah aja, dan nggak ada penjelasan sedikit pun selama 25 episode berjalan kenapa hal itu bisa terjadi... arrrgggghh  ~!@#$%^&*()_+
  • Masalah smell of the Witch. Ketika Subaru pindah ke Lugunica, nggak ada satupun karakter yang pernah mencium langsung bau sang Jealous Witch dari jarak dekat (nggak ada penjelasan/penceritaan seandainya ada yang pernah). Artinya, bau yang dimaksud adalah sesuatu yang sebenernya aneh jika bisa disadari oleh para karakter lain. Contoh... Anda pernah cium bau mulut beruang kutub? Nggak? Terus apa respon yang wajar ketika ada bau aneh yang tercium oleh Anda entah dari mana? Apa Anda akan langsung menyebutnya bau mulut beruang kutub? Lantas gimana caranya orang-orang di Re: Zero bisa tau kalo yang diciumnya itu smell of the Witch?
  • Masalah kemampuan kabut dari White Whale. Menurut episode 17, kabut itu bisa menghilangkan eksistensi, bahkan semua orang jadi nggak tau Rem itu siapa. Bener-bener lenyap tanpa jejak, sink into oblivion. Sementara di episode 20, pasukan yang ikut dalam perburuan White Whale masih aware kalo ada anggotanya yang ilang setelah kena kabut. What the...?
  • Fire stone di episode 24 itu munculnya dari mana? Masuk akal kalo Julius ngasih spirit ke Subaru (he's a spiritual arts user, right?), tapi di sini dikasih liat segenggam batu. Entah siapa yang ngasih ke Subaru atau boleh mungut dari mana, nggak ada scene dapetinnya. Minimal sebutlah gimana caranya itu bisa ada di tangannya. Ini jadi masalah karena kalo batu ini nggak ada, Betelgeuse akan dikalahkan dalam waktu lebih lama lagi. Singkatnya, benda itu mendadak ada semata-mata demi kenyamanan plot dan mengurangi durasi.
  • Jelas ada hubungan antara Witch dan kemampuan Return by Death. Tapi hubungan semacam apa? Gimana juga caranya si Witch tersebut bisa punya pengaruh terhadap kemampuan Subaru itu?
  • Roswaal punya tujuan buat kill the dragon, karena itulah menjadi sponsor Emilia di royal selection. Lalu tujuan tersebut nggak diceritain lagi dan lenyap begitu aja dari peredaran storyline, padahal ini adalah titik pertama di mana semangat saya mulai diangkat naik karena berpotensi mengobok-obok legenda yang ada. #tepokjidat
  • Elsa! Serius, villain arc pertama yang satu ini bikin merinding karena bisa bersikap sopan dan elegan di luar padahal tukang tebas perut orang. Senasib dengan tujuan Roswaal, dia pun mendadak lenyap ditelan storyline. #tepokjidat2tangan.
  • Puck! Makhluk yang satu ini selalu nyebut Emilia sebagai anak perempuannya dan Beatrice sebagai adik. Dari mana asal-usulnya sampai dianggep begitu? Juga tiba-tiba dipanggil "Great Spirit" sama Wilhelm di episode 24 (hasil terjemahan fansub DameDesuYo). Dari kekuatannya memang layak dipanggil demikian karena bisa menangani seluruh Witch Cult sendirian. Tapi perlu diingat, Wilhelm nggak pernah diceritain ngeliat Puck beraksi perkasa begitu. Apa karena pernah punya jasa? Atau pernah pamer kekuatan di depan Wilhelm? Atau jangan-jangan posisinya memang ada di pucuk hierarki para roh...? Heck, spekulasi lagi.
  • Keseluruhan royal selection itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Crusch amat sangat cool dengan aura noble monarch dan keliatan paling berpengalaman dalam birokrasi, plus berorientasi pada kehormatan. Ambisi anarchism ala Felt itu menarik jika diamati dari peristiwa personal yang dia alami. Priscilla mengingatkan saya sama pemimpin-pemimpin otoriter ala fasisme, pokoknya totaliter maksimal. Idealisme Emilia itu demokratis dan cocok dengan jaman sekarang (satu-satunya titik di mana saya truly rooting for her). Anastasia pun nggak beda dengan kenyataan sekarang, yaitu banyak hal dikendalikan duit dan korprasi raksasa. Fresh aja rasanya ngeliat semua kandidat jujur tanpa ada kampanye omong kosong ala Pemilu, meski tujuannya untuk ambisi pribadi. Masalahnya, kelimanya punya simbolisme menarik namun diputus begitu aja! AAAAAAAAGGHHH!! NOU GA FURUERUUUUU!!! *sengklek ala Betelgeuse*

    Kedua, unnecessary brutality.



    Di kelebihan ke-4 saya menyebut "brutalitas nggak berdasar", dan itulah yang ada di anime ini. Hal-hal brutal di sini hanya berfungsi agar penontonnya telen ludah. Dengan kata lain, faktor ini bisa saya katakan semacam steroid belaka supaya ada sesuatu yang bikin deg-degan penonton secara cepat tapi tanpa ada buildup yang ngeri-ngeri sedap.

    Brutalitasnya juga... kosong. Iya, kosong. Seandainya ini anime tentang perang, maka brutalitas dibutuhkan untuk menyampaikan pesan tentang anti-war, ada value yang bisa digali. Kalo temanya semacam battle royale, itu masih masuk akal karena dari awal sistemnya memang bunuh-bunuhan. Sementara di sini... serius, saya nggak dapet apa-apa selain shock factor alias kaget-kagetan. Ibaratnya kayak film horor tapi setannya nggak serem, cuma ngagetin lewat BGM atau kemunculan mendadak. Parahnya, diulang terus sampai saya bosen.

    Ketiga, story arc discontinuity.



    Tiap arc patahnya ampun-ampun. Re: Zero bukan slice of life (yang lebih enak kalo episodik alias patah-patah antar episode), sehingga ketidaksinambungan antar arc di sini bikin saya garuk-garuk kepala. Saya nggak ngerti arc awal itu fungsinya untuk apaan selain menggotong Felt untuk ditaro di awal arc ketiga. Parahnya lagi, arc kedua nggak menjadi pengikat antar arc, malah jadi kasus yang sama sekali berbeda dan nggak ada nyambung-nyambungnya dengan arc 1 maupun 3.

    Keempat, last villain.



    Saya... beneran lagi nonton anime ber-genre thriller kan? Untuk Elsa sih masih oke karena sopan dan elegan di luar tapi iblis di dalem. Sebaliknya, Betelgeuse nggak ada serem-seremnya karena basisnya cuma kegilaan semata. Juga nggak ada buildup yang baik sehingga villain yang satu itu malah kayak "dilempar" begitu aja selagi arc ketiga berjalan biar anime ini "ada musuhnya" setelah Elsa dari arc 1 mendadak ngilang.

    Gigit jari sampai berdarah itu juga jatohnya konyol daripada mengerikan. Kemudian sewaktu dia terbang di episode 24 dan dikomentari bocah-bocah penunggang serigala itu, saya malah ngakak. Apalagi ditambah leher sengklek dan pinggang pegel linu yang malah kocak... Mungkin suatu hari dia bisa bikin video menyaingi joget PPAP dengan kemampuan melenturkan badan itu. I have a Rem! I have Subaru! NGGGGGHHHH! I love Emilia. #dihajarTeamRem

    Selamat menikmati Subaru bengong sebelum melanjutkan ke poin berikutnya. #plak

    Kelima, minimum worldbuilding.



    Kalo berani "melempar" setting ke dunia yang bukan dunia nyata saat ini, worldbuilding nggak boleh dilewatkan. Di sini, yang saya dapatkan cuma dasar legenda tentang Lugunica (ep 6) dan sistem magic yang melibatkan gate dalam diri tiap orang (ep 8).

    Saya butuh penjelasan tentang dunia yang punya populasi sub-human, minimal ada basis mitologinya untuk menceritakan kenapa ada sentient being yang bukan 100% manusia. Legenda yang saya sebut tadi juga nggak diceritakan lebih jauh, padahal itu dasar segala sesuatu biar penonton bisa memahami dunia yang ada di Re: Zero.

    Saya juga harus diberi pengertian gimana caranya Subaru mengerti secara verbal bahasa dunia lain itu, tapi tidak dengan aksaranya. Bahkan ada yang ngomong dalam logat Kansai di dunia antah berantah!

    Kondisi geografis dan geopolitiknya juga nggak digambarkan, bikin saya bingung sewaktu tiba-tiba pakta aliansi menyebutkan perijinan tambang di suatu hutan tertentu yang nggak kebayang sama sekali di sebelah mana dalam domain-nya Roswaal. Terus... Kararagi? Itu negara sendiri (jadi royal selection ini bisa diintervensi negara lain, pokoknya nurut aja titah sang naga), domain semacem yang dikepalai Roswaal, atau malah daerah khusus lain lagi?

    Keenam, Subaru.



    Kalo di Plastic Memories saya menemukan sistem yang direkayasa sedemikian rupa demi kenyamanan plot, maka Re: Zero adalah anime dengan protagonis yang direkayasa sedemikian rupa demi kenyamanan plot.

    Saya pecah ke dalam poin-poin.

    • Emosinya fluktuatif dan bisa naik mendadak. Nggak ada apa-apa pun bisa naik lagi. Atau setidaknya tunggu sampe dielus-elus Emilia/Rem. Episode 13-15 bisa jadi contoh bagus (turun, naik, turun lagi, naik lagi). Episode 7-8 juga lumayan (turun sampai muntah-muntah, terus naik pas udah dimanja-manja).
    • Supreme stupidity hampir di setiap waktu tapi bisa punya kesimpuan logis sendiri tentang kemampuan yang dia punyai lewat observasi (ep 2), plus otaknya berlanjut lancar jaya setelah episode 18. Bahkan dia dalam sekejap menyadari tentang perputaran ekonomi yang sedang terjadi di ibukota, plus perihal tambang yang nggak pernah diceritakan di episode-episode sebelumnya!
    • Di satu waktu dia bersemangat untuk menyelidiki apa yang menyebabkan kematian dirinya dan point out hal yang berbeda dari pengulangan sebelumnya (ep 5 - nggak ngucapin oyasumi ke Beatrice), lalu cuma kepikiran solusi pura-pura kabur (ep 6), kemudian pasrah sampe minta perlindungan Beatrice bahkan lompat sendiri dari jurang (ep 7), tapi...! Mendadak dia bisa mikir keras dan menyimpulkan penyebab kematiannya pada pengulangan sebelumnya setelah otaknya 2 kali nge-hang (ep 8)! Kalo bisa bersikap demikian di episode 5, kenapa nggak dibawa ke episode 6 dan 7? Kalo nggak, nggak akan ada adegan tangan dan kakinya Subaru lepas!
    • Seringkali nggak sanggup mengadakan percakapan normal dengan orang lain (kebanyakan bercanda yang nggak perlu dan sering ngomong pake emosi) dan nggak ada bagus-bagusnya dalam hal yang membutuhkan formalitas (ep 13), tapi langsung jago bersilat lidah untuk negosiasi di episode 19. Terus ada Rem itu buat apa? Dari episode 1-18, tampak jelas kalo Rem lebih berbakat dalam tutur dan perilaku yang membutuhkan formalitas. Kenapa nggak dia aja yang ngomong? Apakah Subaru dapet sudden communication skill power-up? Super sekali.........
    • Keputusan nggak efisien: nggak manggil Reinhard (secara nggak langsung ini artinya membangun aliansi dengan Felt) untuk membasmi White Whale. White Whale memang pernah membunuh Sword Saint sebelumnya, tapi anehnya... kali ini Subaru tetap percaya diri tanpa melibatkan Sword Saint. Logikanya, yang kuat aja nggak bisa ngalahin, apalagi yang lebih lemah? Kenapa nih? Bodoh mendadak lagi? Apapun itu, kesimpulannya adalah Subaru nggak minta tolong Reinhard supaya perburuan itu bisa muat jatah durasi 3 episode.
    • Mau bersusah payah nyelametin nyawa cewek yang baru ditemuinya kurang dari 1 hari (ep 1), malah hanya dalam beberapa menit kalo menurut durasi anime. Hebat banget ya chemistry-nya? Coba kalo nggak, mungkin kita cuma akan disuguhkan buildup manis selama beberapa episode yang berpotensi membangun karakterisasi Emilia. #nyindir

    Ketujuh dan yang paling fatal... konsep.



    Return by Death itu konyol luar biasa. Alasanya? Karena semua kesalahannya terhapus TOTAL setiap kali pengulangan! Ditambah lagi, dia punya kendali penuh atas kekuatan tersebut (bisa sengaja lompat dari jurang!), dengan patokan aturan yang jelas dan mudah untuk mengaktifkannya. Sistem yang demikian membuat saya nggak bisa bersimpati terhadap Subaru.

    "Lho, baru episode 1 udah mati?"
    "Wah ngulang! Balik hidup lagi!"
    "Tapi... gitu aja? Pokoknya hidup, trus 100% yang sebelumnya kehapus? Oke fine..."
    "Mati lagi? Hidup lagi nggak ya? Oh hidup. Oke, ulang. Dari nol, sesuai judul."
    "Bentar. Mati lagi? Gara-gara preman? Ulang dong?"
    "Berarti abis ini kalo ada yang salah pasti mati hidup mati hidup, tapi segala kesalahannya kehapus begitu aja..."

    Setelah pengulangan ketiga, saya stop peduli dengan Subaru. Mau dia salto, kayang, jerit-jerit, depresi, bahkan gila sekalipun... I don't care. Karena apa? Nggak masuk akal dia depresi padahal punya sesuatu yang bisa memperbaiki TOTAL segala kesalahannya tanpa jejak dengan NOL resiko. Ada resikonya? Saya tahu ada sesuatu yang bisa dianggap "resiko", tapi hal tersebut cuma menghalangi dia dalam menceritakan kemampuannya secara langsung dan sama sekali nggak menghalangi Subaru untuk memperbaiki kesalahan.

    Nah, sekarang coba seandainya reset yang dilakukan ada efek sampingnya dan nggak serta merta kehapus begitu aja.

    Andaikan ada sesuatu yang hilang setiap kali reset. Dimulai dari yang paling nggak signifikan, misalnya orang-orang yang cuma selewat dan/atau benda-benda kecil yang masuk frame tapi berpotensi nggak diperhatikan, kemudian biarkan Subaru nggak menyadari hal itu sampai beberapa reset ke depan. Efek psikologisnya bakal lebih gila karena dia nggak sadar ada yang hilang, dan setiap reset berikutnya berpotensi menghilangkan karakter-karakter lain yang lebih penting. Depresinya akan lebih real.

    Dia juga nggak diberi pilihan setiap kali reset, padahal ini juga oke kalo dipakai di cerita. Biarkan Subaru memilih di antara dua hal, tapi lama-lama dia menyadari kalo di semakin sering reset dilakukan, segala sesuatu yang ada di Lugunica akan lenyap tanpa jejak. Secara nggak langsung, dia harus memilih: seantero Lugunica atau Emilia?

    Jumlah reset yang dimiliki pun nggak diceritakan ada batasnya. Batasan reset akan mencegah Subaru pasrah kayak lompat ke jurang, sehingga mau nggak mau harus puter otak sedari awal. Bodoh di awal pun akan perlahan dibentuk jadi cerdas lewat buildup yang lebih masuk akal kalo trik ini dipakai sebagai sistem Return by Death, nggak bodoh-pinter-bodoh-pinter lagi.

    Atau setidak-tidaknyaaaa... ada konsekuensi fisik/magis yang dialami. Entah jadi sakit keras, ada luka di dalem/luar, aliran mana-nya jadi nggak terkontrol, dan sejenisnya. Ini juga sanggup menambah tekanan mental karena ada sesuatu yang di luar kendali sekaligus nggak mengenakkan terjadi pada tubuh Subaru.

    Flaw Revival di ERASED sebenernya juga serupa, tapi masih termaafkan karena satu hal: protagonisnya nggak punya full control. Bisa tiba-tiba terpicu sendiri (nggak ada patokan jelas kapan bisa mulai/selesai) dan tiba-tiba kelempar ke time frame yang jauh banget dan nggak terduga.

    Apalagi yang aneh di konsep? Savepoint!

    Pertama, depan toko apel. Kedua, di kediaman Roswaal. Ketiga, balik lagi ke depan toko apel. Keempat, deket pohon setelah ngalahin White Whale.

    Sumpah ini berantakan. Maaf seribu maaf, ini bukan demi unsur unpredictability, tapi semata-mata untuk... lagi-lagi, kenyamanan plot.

    Dari 1 ke 2, savepoint berpindah setelah kematian Emilia, Felt, dan Rom berhasil dicegah dengan mengalahkan Elsa. Ini masih masuk akal karena bergeser ke pagi berikutnya di kediaman Roswaal, nggak terlalu jauh dari event yang harus diubah sebelumnya.

    Pola:
    1. Savepoint 1
    2. Menemukan penyebab masalah lewat kematian pertama di arc 1
    3. Repeat sampai proses penyelesaian masalah selesai (Elsa)
    4. Selesai 
    5. Update savepoint 2

    Dari 2 ke 3, savepoint berpindah karena... apa? Berhasil menyelamatkan desa? Kalo gitu kenapa savepoint-nya pindah lagi-lagi ke depan toko apel? Andaikan serupa dengan perpindahan 1 ke 2, seharusnya savepoint di-update tetap pada kediaman Roswaal tapi dengan waktu setelah desa diselamatkan (ep 11 akhir). Sementara di sini...

    Pola:
    1. Savepoint
    2. Kematian pertama di arc 2 
    3. Repeat sampai penyebab masalahnya ketemu
    4. Proses penyelesaian masalah (Witchfiend)
    5. Selesai
    6. Muter-muter dulu dengan berbagai kejadian di ibukota (what the...)
    7. Update savepoint 3

    See? Nggak langsung di-update setelah masalah selesai. Kalo langkah 6 dihapus, kandidat royal selection nggak akan diceritakan dan Felt jadi nggak ada gunanya meski udah dibungkus bawa pulang sama Reinhard. Tapi kalo langkah ke 6 dilakukan setelah update, maka semua event di langkah 6 akan diulang-ulang-ulang-ulang, yang artinya prosedur royal selection akan diceritakan berkali-kali sebelum update ke savepoint 4. Kesimpulannya, itu dilakukan supaya "pokoknya biar royal selection ada penjelasannya, tapi nggak boleh diulang-ulang" padahal mengubah pola savepoint update.

    Dari 3 ke 4 lebih aneh lagi. Langsung ke polanya.

    Pola:
    1. Savepoint 3
    2. Repeat terkadang mindbreak sambil menemukan penyebab masalah utama (Witch Cult)
    3. Proses penyelesaian masalah sampingan (White Whale --- problem utamanya itu Witch Cult!)
    4. Selesai masalah sampingan (White Whale)
    5. Update savepoint 4
    6. Proses penyelesaian masalah utama (Witch Cult)
    7. Repeat satu kali
    8. Selesai (dan ending)

    Pertanyaannya, kenapa update ke savepoint 4 malah terjadi setelah problem yang bukan masalah utama? Apa karena author-nya udah puas ngebanting-banting mental Subaru sehingga harus dikasih handicap dengan meng-update savepoint setelah gorefest terjadi? Kalo begini, pola savepoint update-nya udah berubah untuk yang kedua kali... (=___=)"


    Oke... banyak ya ternyata. Well, bagi sebagian besar dari Anda (apalagi yang suka anime ini) mungkin nggak merasa bermasalah dengan poin-poin kelemahan yang saya tulis, tapi secara jujur apa adanya (tentu sebisa mungkin saya menghindari bashing), itulah yang saya temukan. Dan menjawab pertanyaan yang ada di bagian "Ngelantur Sebentar"... saya merasa anime ini di berada bawah batas ekspektasi.

    Kalo ada di antara Anda yang menyarankan saya baca WN/LN agar semua faktor kelemahan di atas terjawab/terselesaikan (mungkin ada penjelasan kenapa struktur savepoint update-nya begitu?), maka secara nggak langsung Anda mengakui kalo adaptasi animenya nggak bisa mengambil faktor mana aja yang penting agar penonton dapet gambaran menyeluruh dan komprehensif tentang serial ini.

    The forgotten heroine.


    Oh, di kelemahan tadi saya bahas soal worldbuilding ya?

    Setelah ini saya akan me-review anime dengan worldbuilding yang lebih baik, serta protagaonis yang jauh lebih mikir dan stabil emosinya dibanding protagonis di sini. Plus, sama-sama "terdampar" di dunia lain meski ke dalam game.

    Bisa tebak?

    Yup, Log Horizon.

    Masih ada satu lagi. Saya juga udah kelar menikmati salah satu anime berbau ngacak-acak aliran waktu, dan boleh saya katakan JAUH lebih baik dibanding anime ini. Punya protagonis yang sama-sama bawel, tapi dengan sistem yang lebih solid.

    Betul. Steins;Gate. Stay tuned!

    Untuk mewujudkan keadilan sosial bagi kubu pro dan kontra. #LagiMusimPilkada



    ---------------




    Rating:

    5.5/10 (D rank) untuk Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu karena penyajian ambience yang baik melalui audiovisual, jajaran seiyuu yang oke punya, beberapa karakter yang patut diperhatikan, dan tentu episode 18-nya.

    Direkomendasikan bagi yang menggemari tema isekai.

    Untuk mewujudkan persamaan hak bagi setiap golongan tanpa memandang gender ( ͡° ͜ʖ ͡°) #LagiMusimPilkada


    ***

    25 comments:

    1. Replies
      1. Too much weakness, mana keliatan banget pula sama saya (._.)
        Ya udah gregetan, jadinya begini akwkawkakwk

        Delete
      2. saya setelah nonton ini tamat beberapa hari malah harus istirahat nonton anime. karena untuk mengistirahatkan otak saya gahahaha

        Delete
    2. Repost comment :v
      Niat.nya baca review hibike sih. Kok telat min?

      Sumpah, emang gregetan nonton nih anime. Udah lama sih nonton.nya, ngikutin pas on going. Ane Kurang kerjaan, jadi baca nih review.
      Sampe kelebihan.nya abis, kaget. Scroll.nya kok udah lebih dari setengah, wah kelemahan.nya dikit nih, gak kayak ane pikirin.

      Dan setelah itu...
      Pakek hide-show. 😅
      Yap, gregetan ane terbayar dengan mengangguk-angguk sendiri sambil baca seribu satu kelemahan.nya yang dijelas.in dengan gamblang ini. Gak rugi deh tiap baca review disini. Top min 👍
      Request review min. "kimi no na wa"

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hibike ASAP. Harus diresapi dan direnung-renungkan dulu sih kalo itu akwkawkawk #plak

        Thanks udah setuju. Jujur aja saya rada "ngeri" rilis review ini karena polarisasi antar 2 kubu itu gede banget, nyaingin Pilkada kayaknya. XD

        Hemmm... I'm not really a fan of Makoto Shinkai, jadi untuk kali ini maaf, ndak ada review untuk anime itu. Tapi jangan putus asa, doain aja supaya saya mendadak kepengen nonton.

        Delete
    3. Wah, luar biasa ya.. kritikannya mantap.. tapi saya ngga peduli mo sejelek apapun ratung anime ini...... EMILIA TETAP MILIK SAYA *meluk bantal waifu Emilia*

      ReplyDelete
      Replies
      1. Buset dimonopoli XD
        Emilia is nice, but too perfect. Saya udah nggak nyaman ngeliat karakter yang nggak ada kurangnya sama sekali.

        Delete
    4. Emilia oh Emilia... OTAKKU BERGETARRR !!!!!

      ReplyDelete
    5. Waah,nice review nya,kalau ada waktu saya juga ingin buat review nya

      ReplyDelete
    6. Awalnya tertark sama anime ini karna konsep nya, tapi ternyata ancur parah, coba gan baca manga all you need is kill yg punya konsep sama return from death tapi dijamin beratus ratus kali lebih bagus dari ini atau nonton adaptasi film holywood nya yg judul nya edge of tomorrow yg diperanin tom cruise

      ReplyDelete
      Replies
      1. Well... saya jarang banget sih nonton film" Hollywood, kecuali memang lagi ada selewat di TV. Kalo sumber manganya itu mungkin bisa, nanti saya cari. :D

        Delete
      2. kalo mau baca coba disini min http://mangaku.web.id/all-you-need-is-kill/ dijamin keren :D

        Delete
    7. Ku setuju banget dengan kelemahan2 dari anime ini.. Sempat ga kepikiran sebenarnya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yah begitulah adanya kalo menurut saya. Kalo setuju ya sukur deh. :)

        Delete
    8. Satu kurangnya min, alasan emilia diincar masih kurang jelas menurut ana

      ReplyDelete
    9. Saya setuju ama banyak poinnya, keren banget and emang sejak gue ngikutin pace di ReZero emang banyak plot hole. Well, orang bilang plot hole di anime berbasis LN pasti ada tapi that's ain't an excuse to begin with...

      Saya emang ada yang gak setuju ama banyak poin ente tapi overall nice review. Kalau saran saya sih sebelum nulis review ttg anime, jangan bangun ekspektasi ato coba2 nyari spoiler atau mencari pendapat org lain ttg ni anime. Emang susah tapi hasilnya nnti reviewnya lebih profesional.

      ReplyDelete
    10. sebenarnya animenya keren di episode2 awal tapi lama kelamaan pusing sendiri liat nih anime seperti penulisnya seenaknya membuat anime. banyak hal yang tidak di jelaskan semuanya serba tiba2 tapi saya setuju dengan kelemahan anime ini. animenya tidak jelas banget.

      ReplyDelete
    11. sebagian kesalahan2 dr anime ini emang bener sih. dan yang kurang: sebenernya penyihir pencemburu itu sipa? dan kenapa bisa beneran mirip sama emilia? kenapa subaru yang diincer sama penyihir? apa karena dia tokoh utama? terus kenapa waktu episode 1 pas emilia ditanya namanya siapa, dia jawab 'satela' yang jelas2 nama penyihirnya?

      terus subaru itu emosinya bener2 labil, bikin kesel setengah mati. dia tb2 bisa baikkkk banget. tapi bs tiba2 blak2an banget (ep berapa saya lupa pokoknya waktu subaru blg hal ga jelas ke emilia abis berantem sama julius).

      tapi ttp suka anime ini, dan koreksi aja, sebenernya dr beberapa kesalahan yg ditulis ini yang sebenernya dijelaskan walau ga frontal alias terselubung. but tetep setuju sama ebberapa kesalahannya.

      tapi emang kalo nonton terus dan fokus terus sama tokoh2 pentingnya kaya subaru, emilia, rem ga bakal ketara banget sih wkwk

      ReplyDelete
    12. Udah berapa tahun ni di rievew :v
      Emang pada saat itu animenya tidak begitu jelas jalan ceritanya kenapa? Ya karna memang ceirtanya belum selesai tapi masih lanjut di LN. Misalnya anime ini dapet S2 nya dri LN nya apakah penilaian dan rating nya tetap sama?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Karena semua kesalahan dan kekurangan nya akan terjawab disana

        Delete
      2. Berarti yang ratingnya akan lebih bagus cuma S2nya :D

        Delete
    13. Paling males nonton anime kalo pemeran utama nya tolol bgt, sumpah gedek bgt liat sifat kekanak2an subaru, males gak tak lanjutin ,cukup sampe eps 16 gak kuat nontonya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Protagonis gblk sebenernya nggak masalah, asal character development-nya bagus dan kepribadiannya terstruktur.
        Stress boleh, tapi jgn bisa tiba-tiba berubah waras dlm waktu singkat, trus stress lagi, trus waras lagi.

        Lah kalo ini berantakan... (-_-)

        Delete